25 June 2009

A Short History of Tractors in Ukrainian


Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.

Bisa dibayangkan, ibu saya, anaknya yang paling tua, merupakan yang paling sewot. Jika tidak salah, ia masih marah saat Kakek menjelang meniggal. Tentu saja adik-adik ibu saya yang lain juga ngedumel. Hanya ada satu orang paman saya yang tampaknya merestui pernikahan ini, dengan alasan yang mencoba masuk akal: kakek sudah tua, butuh seseorang yang akan mengurus.

Paman saya inilah yang menelepon saya dan memberitahu. Mencari dukungan, tentu saja. Paman saya rupanya sudah memperhitungkan, akan mudah memperoleh dukungan dari saya. Pertama, saya cucu paling dekat dengan kakek. Kedua, saya terlalu rasional dan tak mau ambil pusing. Dan benarlah, saya mendukung pernikahan kakek dan mencoba meluluhkan hati ibu saya, meskipun tak pernah berhasil.

Akhirnya, terbukti saya dan paman yang satu itu tampaknya salah. Ketika kakek meninggal (hanya beberapa minggu setelah menikah, sebenarnya), barang di rumah kakek hilang dibawa istri baru dan anak-anak tirinya. Tak cuma itu, mereka juga berhasil menuntut sebidang tanah. Apa boleh buat. Kakek meminta maaf pada ibu saya dan anak-anaknya yang lain mengenai keteledoran itu, menjelang meninggal. Saya mencoba mengambil hikmah: tak apalah memberi rejeki kepada orang lain (dalam hal ini nenek tiri saya itu, yang sampai sekarang, saya bahkan belum pernah melihat orangnya).

Novel A Short History of Tractors in Ukrainian (karya Marina Lewycka, vesi Indonesia diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama) kurang lebih menceritakan hal yang sama. Si Kakek adalah Nikolai, insinyur asal Ukrania yang bermigrasi ke Inggris setelah invasi Sovyet ke negaranya. Tak lama setelah istrinya meninggal, ia memutuskan untuk menikah dengan perempuan Ukraina yang jauh lebih muda, Valentina.

Motif pernikahan ini sudah jelas: Valentina hanya mencari ijin tinggal di Inggris, dan tentu saja harta. Sementara Nikolai, selain butuh teman tinggal, juga memang dengan tulus ingin membantu seseorang dari negaranya terbebas (kalau bisa, ia ingin membebaskan seluruh orang Ukraina). Di luar itu, ada dua perempuan anak Nikolai yang jelas menentang pernikahan tanpa cinta ini.

Di tengah pertarungan antara Nikolai-Valentina yang ingin membuktikan mereka saling mencintai dan kedua kakak-beradik yang panik si perempuan jalang Valentina akan merampok warisan mereka, terbentang sejarah kelam Ukraina di bawah pendudukan Sovyet. Sejarah ini tergambar dalam tulisan singkat Nikolai, yang ditulisnya di tengah-tengah urusan dengan Valentina, mengenai sejarah traktor.

Lucu. Novel komedi kelas atas! Kamu hanya perlu membaca bab pertama, untuk tahu bahwa novel ini akan membuatmu nyengir, dan terus menikmatinya. Bahkan meskipun kamu tidak punya Kakek yang tinggal sendirian dan mendadak ingin menikah dengan perempuan yang jauh lebih muda seperti yang saya dan tokoh novel ini alami. Percayalah!

07 June 2009

The Unbearable Lightness of Being: Politik itu Kitsch

Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.

Dan tentu saja kitsch yang paling tak disukainya adalah kitsch gaya estetika Komunis Rusia. Sudah menjadi rahasia umum, Kundera membenci hampir segala hal mengenai Rusia. Bahkan tak jarang ia menolak wawancara jika diketahuinya wartawan tertentu berasal dari Rusia. Sebagaimana umum diketahui, ia harus meninggalkan negerinya (Ceko) tak lama setelah negeri itu diinvasi tentara Rusia, dan tinggal di Paris sampai hari ini. Tema mengenai invasi itu, bahkan sudah muncul sejak novel pertamanya, The Joke.

Estetika kitsch meniadakan segala hal yang tak dikehendaki. Dalam kaca mata Kundera, estetika Komunis Rusia tak lain adalah kitsch: mereka meniadakan segala yang tak dikehendaki (oleh mereka). Tapi buru-buru Kundera mengingatkan: Kitsch merupakan estetika ideal untuk semua politikus dari berbagai partai politik maupun gerakan. Jika Anda melihat seorang politikus di depan kamera televisi dan buru-buru mendekati seorang anak, lalu mencium pipinya, itulah kitsch.

Membaca novel ini saya jadi ingat dengan apa yang diperbuat calon presiden dan wakil presiden kita belakangan hari. Susilo Bambang Yudoyono dan calon wakilnya, Boediono, mendeklarasikan pencalonan mereka dalam suasana megah di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Deklarasi itu, semua orang tahu, meniru-niru penetapan pencalonan Obama-Biden akhir tahun lalu. Warna biru memenuhi ruangan (ya, itu warna Partai Demokrat), dengan selingan warna merah dan putih (itu warna bendera kita). Tepuk tangan tertata. Iringan lagu dari paduan suara. Poster-poster didesain mengilap. Semua itu apa lagi jika bukan kitsch?

Calon lain, Jusuf Kalla dan Wiranto, mendeklarasikan diri mereka di tugu proklamasi. Ini kitsch yang lain: mereka ingin mengambil ideal dari gambaran mengenai Soekarno dan Hatta, para proklamator itu, seolah-olah mereka mewarisi semangat tersebut. Bahkan kalimat terkenal dari naskah proklamasi, “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”, mereka adopsi. Ketika citra ideal dan yang tak dikehendaki ditutupi, itulah kitsch.

Setelah melihat deklarasi dua pasangan calon sebelumnya, pasangan lain, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, membuat gebrakan mengejutkan. Mereka mendeklarasikan pencalonan mereka di tempat paling kotor di seputaran Jakarta: tempat pembuangan sampah Bantar Gebang. Apakah mereka sedang menunjukkan sejenis estetika anti-kitsch?

Tunggu dulu. Megawati dan Prabowo tidak sedang mempertunjukan sampah. Mereka bahkan menutupi sampah itu dengan pasir, kerikil dan konblok. Dan bukit sampah ditutup dengan bendera merah-putih raksasa yang konon memecahkan rekor sebagai bendera terbesar versi Muri. Bahkan seandainya tidak mereka tutupi, tetap saja yang ingin mereka perlihatkan bukan sampah itu. Inilah yang dengan tegas ingin mereka sampaikan: kepedulian kepada rakyat jelata, nasionalisme (mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan dari awal hingga akhir acara) sekaligus patriotisme, dan jelas itu semua bukan sampah.

Benarlah kata Kundera, kitsch tak mengenal ideologi dan partai politik.

***

Saya ingat di sekitar tahun 1998, sekelompok demonstran mengenakan ikat kepala yang sama, bertuliskan nama komite mereka. Laki-laki dan perempuan. Tentu saja ikat kepala semacam itu tak ada hubungannya dengan apa pun yang mereka perjuangkan. Keseragaman itu hanya sejenis pertanda eksplisit mengenai sejenis ikatan persaudaraan di antara mereka, hal lumrah di semua gerakan politik. Pada dasarnya mereka sedang merayakan estetika kitsch ini, terutama aspeknya yang paling penting: sentimentalitas.

Ikat kepala dan persaudaraan yang terbentuk olehnya membuat mereka merasa sentimentil. Nostalgia.

Perkaranya juga sama dengan sekelompok demonstran lain yang selalu mengacungkan tangan kiri yang terkepal, bukan tangan kanan. Sebagaimana ikat kepala, tangan kiri yang terkepal mestinya tak ada hubungan apa-apa dengan politik kiri (yang mereka yakini). Ideologi seolah-olah ditentukan apakah Anda mengepal dengan tangan kiri atau tangan kanan. Estetika kitsch menunjukkan bahwa apa yang berada di permukaan, jauh lebih penting daripada apa yang mengendap di dalam.

“Identitas kitsch tak datang dari suatu strategi politik, melainkan dari citra, metafor dan kosakata,” demikian Kundera menambahkan, masih di novel The Unbearable Lightness of Being.

Tak perlulah kita membicarakan mengenai pencitraan partai politik atau kandidat melalui iklan di televisi maupun surat kabar. Tanpa itu pun, mereka (sadar tidak sadar) sudah mempergunakan estetika kistch secara tepat guna untuk mendulang suara. Demikianlah mengapa partai politik, misalnya, merasa harus memiliki warna dominan partai, di luar lambang, nama dan anggaran dasar. Lebih dari itu, Partai Demokrat menciptakan bahasa tubuh berupa jempol dan telunjuk yang terbuka dan digabungkan antara tangan kanan dan kiri, membentuk segitiga. Dengan kata lain, cukup lakukan hal itu untuk menunjukkan Anda simpatisan Partai Demokrat. Cukup membuat isyarat jari membentuk moncong banteng, untuk memperlihatkan Anda simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (dan ya, pakailah jas warna merah).

Dan cukup mengatakan “lebih cepat lebih baik”, untuk menunjukkan simpati Anda kepada Jusuf Kalla dan Wiranto. Juga cukup mengatakan kata “neoliberal”, untuk membuat sepasang calon bagai kebakaran jenggot, sekaligus ampuh untuk menjadi peluru. “Neoliberal” menjadi sejenis kotoran di negara miskin seperti Indonesia dalam parade kitsch politik mereka.

Anda tak perlu menjadi komunis untuk membuat polisi marah, cukup mengenakan kaus oblong dengan gambar palu dan arit.

Pada dasarnya kita semua korban kitsch. Kita marah ketika lagu “Rasa Sayange”, kesenian reog, batik, diaku negara lain, sebab kita merasa hal-hal itulah yang membuat kita menjadi Indonesia. Ya, negara pun membutuhkan kitsch. Negara membutuhkan lambang-lambang itu, lagu-lagu perjuangan itu, untuk menciptakan rasa haru. Sentimentil. Nostalgia. Ketika Indonesia dimasukkan sebagai salah satu negara paling korup, kita berusaha menampiknya, meskipun faktanya korupsi dimana-mana. Mengapa? Sebab korupsi adalah kotoran. Ia tak cocok untuk parade, tak menimbulkan haru. Begitulah kitsch dalam politik bekerja dan dipekerjakan.

Beruntunglah kita hidup di negara dengan keragaman tendensi politik, meskipun jauh dari sempurna. Dalam situasi semacam itu, novel Milan Kundera yang saya sebut di atas mengindikasikan bahwa, “(kita) kurang-lebih dapat membebaskan diri dari inquisisi kitsch: individu bisa menjalani individualitasnya, seniman bisa menciptakan karya yang tak biasa.” Semoga memang benar begitu.

Tapi bisakah politik keluar dari kitsch? Selama politik adalah mengumpulkan massa, dengan parade dan arak-arakan dan lambang-lambang, sejujurnya saya meragukan itu akan terjadi. Bukankah tidak ada individualitas dalam politik semacam itu? Sebaliknya, mereka merayakan kebersamaan, persaudaraan, bahkan keseragaman. “Kitsch merupakan pemberhentian di antara keberadaan (being) dan ketidaksadaran (oblivion),” kembali ditegaskan Kundera dalam novelnya. Dan bukankah di titik itu pada dasarnya politik berada?

27 May 2009

"Kronik Betawi", Novel Baru Ratih Kumala

Novel terbaru karya istriku, Ratih Kumala, berjudul Kronik Betawi. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.

Sampul Buku "Menanti Sekarini"



Desain sampul untuk buku kumpulan cerpen Vivi Diani Savitri, Menanti Sekarini. Sempat terputus karena harddisk jebol, saya mengerjakannya kembali dari awal. Di bawah ini beberapa draft sebelum versi final:



Ini rancangan awal. Tentu saja ada alternatif lain, tapi gagasan awal dengan obyek tangan dan kupukupu ini yang dipakai. Penulis meminta latar warna pink. Agar tak terlalu monoton, saya memberi blok kuning di samping kanan. Vivi meminta font diganti, karena menurutnya terlalu populer. Ia juga meminta kupukupu berjumlah tiga.



Saya memperbaiki font, dan dalam proses, saya merasa ingin menambah kupu-kupu lebih banyak. Akhirnya, versi kupu-kupu yang lebih banyak dipakai, meskipun font masih bermasalah. Saya juga sudah menambah desain bagian belakang.



Saya merasa latar pink terlalu datar dan memberinya tekstur. Setelah mencoba alternatif font lain, kami mempergunakan versi ini.

Versi akhir, yang bisa dilihat di awal tulisan, jumlah kupukupu di depan dikurangi jadi delapan saja. Juga ada perubahan pada ukuran huruf untuk judul dan penulis, warna, serta urutan peletakannya. Awal bulan depan bukunya mungkin sudah beredar di toko. Selamat menikmati dan membaca.

17 April 2009

Keluarga Tot


Pernahkah kamu kedatangan seorang tamu dan tiba-tiba tamu itu membuatmu merasa tidak nyaman di rumahmu sendiri? Tamu itu mulai menguasai rumahmu, dan karena kamu menghormatinya, kamu tak bisa mengingatkannya, apalagi mengusirnya?

Seperti itulah kira-kira ini pertunjukan "Keluarga Tot" yang dipentaskan Teater Gandrik selama empat hari (mulai malam ini, 17 April). Diterjemahkan dan diadaptasi dari naskah karya István Örkény, berjudul asli Totek.

Ini sebuah naskah absurd Hungaria yang sangat terkenal, dibawakan dengan gaya realis. Mengambil setting di masa Perang Dunia II, Keluarga Tot kedatangan seorang tamu. Tamu ini merupakan komandan anak lelaki mereka yang tengah berperang, dipanggil sebagai "Mayor". Sang Mayor tinggal bersama mereka selama dua minggu, dalam rangka cuti, untuk sejenak membebaskannya dari tekanan perang.

Meski pada awalnya sang tamu sangat diharapkan kedatangannya, lambat laun tamu itu mulai menciptakan neraka di keluarga kecil tersebut. Traumanya kepada perang, membuat buyar keharmonisan Keluarga Tot. Sang Mayor juga bukan jenis komandan yang bisa menempatkan diri. Di rumah asing tersebut, ia tetap memperlakukan dirinya sebagai komandan, menyuruh siapa pun bagaikan memerintah prajuritnya sendiri. Bahkan Pak Tot, yang tubuhnya lebih tinggi, diharuskan untuk sedikit membungkuk agar lebih rendah dari Mayor.

Cerita semacam ini bisa menjadi satir yang penuh gelak-tawa, dan soal ini, Teater Gandrik memang jagonya. Pertunjukan yang memakan waktu sekitar dua jam itu, penuh kekonyolan-getir yang tak henti-hentinya. Kita menertawakan komandan yang tak tahu diri, kita juga menertawakan rakyat jelata yang hanya berani mengomel di belakang, bahkan kita menertawakan pastur yang hanya bisa berkhotbah.

Meskipun begitu ada beberapa hal kecil yang agak mengganggu saya. Pertama, mungkin ini pengaruh terjemahan. Naskah realis tentu saja akan menjadi satir yang bagus jika diadaptasi total, dengan cara memindahkan setting dari Hongaria ke setting lokal (katakanlah Indonesia), sehingga absurditasnya bisa lebih tersampaikan kepada penonton. Tapi sekali lagi, naskah ini terjemahan. Barangkali menyadari problem itu, Gandrik mencoba menjadikannya terjemahan-adaptsi.

Setting, alur dan bahkan tokoh-tokohnya tak berubah, tapi di bagian-bagian tertentu penonton diberi referensi lokal. Hal ini di saat-saat tertentu bisa menjadi lucu luar biasa. Contohnya, ketika tahu anaknya akan bekerja di markas besar, Pak Tot nyeletuk, "Anak kita mau kerja di Kodim". Tentu saja Kodim tidak ada di Hongaria. Itu istilah yang hanya ada di ketentaraan Indonesia (Komando Daerah Militer). Namun tidak semua hal bisa diperlakukan seperti ini, sehingga bagian-bagian lain tetap menjadi Hongaria, yang dibawakan dengan bahasa "terjemahan".

Gangguan kecil kedua, adalah pemaksaan referensi ke konteks kekinian. Sekali dua kali itu lucu (misalnya ketika mengatakan daun pohon beringin tinggal 14 persen, itu merujuk ke peraihan suara Partai Golongan Karya, yang berlambang beringin, hanya meraih 14 persen pemilih belum lama ini), tapi terlalu sering menjadi, well, "garing".

Beruntunglah, para pemain Gandrik terkenal dengan kemampuan improvisasinya, yang membuat kekakuan terjemahan bisa "diselesaikan" di banyak bagian dengan celutukan. Kadang-kadang mereka memakai dialek lokal Jawa. Inilah saya pikir cara mereka untuk berusaha melenturkan terjemahan tanpa harus mengadaptasinya secara total. Ada bagian yang masih canggung, tapi banyak juga bagian yang merka berhasil tampilkan.

Di luar itu semua, selebihnya saya tetap menyukai pentas ini. Senang rasanya bisa tertawa-tawa riang, yang pada dasarnya menertawakan kelemahan-kelemahan manusia sendiri. Lebih lanjut mengenai Teater Gandrik dan "Keluarga Tot", silakan baca di blog Agus Noor. Selamat menontont bagi yang hendak menonton (ya, benar, tulisan ini nongol di blog ini menjelang pentas resminya).